Jumat, 07 Desember 2001
Kalah 0 - 2 dari Lille OSC , FIORENTINA Tersingkir dari Piala UEFA 2001/2002
Sabtu, 19 Agustus 2000
Data Stadio Communale Artemio Franchi - Firenze Tahun 90-an
Kali ini kita bertualang ke Vialle Manfredo Fanti, 4 ke stadion Artemio Franchi, stadion kebanggaan warga Firenze hasil karya Pier Luigi Nervi yang mulai dipakai September 1931. Mampu menampung penonton 47232 orang plus wartawan sebanyak 114 orang.
Data-data teknis Stadion :
|
Luas Lapangan |
105 m x 68 m |
|
Goal protection barriers |
Ada |
|
Lebar
Minimum sekeliling lapangan |
Regular (> 1,5 m) |
Kain kanvas untuk menutup
lapangan |
Ada |
|
|
Jarak minimal dengan
pembatas samping |
2.50 m |
Penerangan Lapangan |
Regular |
|
|
Jarak minimal pembatas
lapangan |
Regular |
Field pre-heating |
Ada |
|
|
Internal division |
Irregular (crash-proof glass) |
Internal closed circuit tv
system |
Ada |
|
|
Jenis scoreboard |
Electronic |
External closed circuit tv
system |
Ada |
|
|
Sound System |
Ada |
Parkir bagi Pemain dan Wasit
|
Satisfactory |
Firenze
adalah kota yang punya banyak gunung dan lembah dan Artemio Franchi berada
di daerah rendah, sehingga seperti dikelilingi gunung.
Seperti stadion lain, Franchi juga terdiri dari beberapa bagian, sebagian
tertutup atap (pernah liat dimana Cecchi Gori duduk, nah daerah sekitarnya
semuanya tertutup atap, sekitar seperempat stadion) dan sebagian lagi terbuka.
Yang tertutup atap juga masih dibagi-bagi lagi, tergantung tempatnya dan
kualitas dan besar kecilnya tempat duduk. Dan makin baik, harga tiketnya
tentu makin mahal. Harga tiket pertandingan tidak selalu sama, tentunya
tergantung pada lawan yang dihadapi, makin berat lawan, makin mahal tiketnya,
karena itu harga yang dicantumkan adalah perkiraaan ( 100 Lira = 400 Rupiah)
TRIBUNA
D’ONORE
- tribun kehormatan, 224 kursi, tertutup atap. Ada beberapa kelas :
¨
CENTRALE
VVVIP (tengah) - tempat Cecchi Gori duduk, harga tiket 220.000 - 240.000
Lira
¨
POLTRONA
VVIP - samping kiri-kanan centralle, harga tiket 200.000 - 210.000
Lira
¨
POLTRONCINA
VIP - dibelakang VVVIP dan VVIP, harga tiket 170.000 - 180.000
Lira
TRIBUNA
COPERTA
- tribun beratap -11876 kursi.
¨
TRIBUNA
LATERALE - samping kiri & kanan stadion, harga tiket
120.000 - 140.000
Lira
¨
TRIBUNA
LATERALE RIDOTTO
- disamping tribuna laterale, kursinya lebih kecil, tiket 80.000 - 100.000
CURVA
FIESOLE (11699) & CURVA MARIONE (10395)
- daerah belakang gawang, tak beratap
¨
PARTERRE
DI TRIBUNA - harga tiket
50.000 - 70.000
Lira
¨
PARTERRE
DI TRIBUNA RIDOTTO - harga tiket
30.000 - 50.000
Lira
CURVA
MARATONA
- antara curva fiesole dan marione (di seberang tribuna d’onore) - tak beratap
- 10462 kursi
¨
PARTERRE
DI MARATONA
- harga tiket 50.000 - 70.000
jauh Lira
¨
PARTERRE
DI MARATONA RIDOTTO - harga tiket
30.000 - 50.000
Lira
CURVA
SETTORE OSPITI
-
tak beratap - untuk pendukung tim lawan - 2432 kursi - 35.000
Lira
TRIBUNA
STAMPA
-
untuk pers - beratap - 114 kursi
VIOLA SQUADRA 2000/2001
| P.E.L.A.T.I.H | M.I.D.F.I.E.L.D.E.R | |
| Fatih Terim / Roberto Mancini | Amaral, Da Silva Mariano Alexandre [15] | |
| Amoroso Christian [24] | ||
| K.I.P.E.R | Bressan Mauro [30] | |
| Taglialatela Giuseppe [33] | Cois Sandro [18] | |
| Toldo Francesco [1] | Di Livio Angelo [7] | |
| Rossi, Marco [19] | ||
| D.E.F.E.N.D.E.R | Rossitto Fabio [11] | |
| Adani Daniele [4] | Rui Costa, Cesar Manuel [10] | |
| Bonora Giacomo [36] | ||
| Lassissi, Saliou [5] | F.O.R.W.A.R.D | |
| Moretti Emiliano [35] | Chiesa Enrico [20] | |
| Mugnaini Marco [32] | Nuno Miguel Soares Pireira Ribeiro [21] | |
| Pierini Alessandro [23] | Leandro, Camara do Amaral [9] | |
| Repka Tomas [2] | Mijatovic Predrag [8] | |
| Tarozzi Andrea [27] | Taddei Riccardo [31] | |
| Torricelli Moreno [3] | ||
| Vanoli, Paolo [14] |
PROFIL
KLUB
|
|
BERDIRI
|
19
September 1926
|
ALAMAT
|
Piazza
G.Savonarola 6 - Firenze
Tel. (055) 57.26.25 - Fax (055) 57.95.56 |
STADION
|
Artemio Franchi -
Viale M.fanti 4-Firenze
Tel. (055) 26.25.537
|
KAMP PELATIHAN
|
Camp sussidiari
comunali - Viale Paoli - Firenze
|
PRESIDEN
|
Dott.ssa Valeria
Cecchi Gori
|
WAKIL PRESIDEN
|
Ugo
Poggi
|
MANAGING
DIRECTOR
|
Luciano
Luna
|
GENERAL MANAGER
|
Antonio
Bianchi
|
| EXTERNAL RELATIONSHIP | Massimo Sandrelli |
| TEAM MANAGER | Giovanni Galli |
SPORTING
MANAGER
|
Giuseppe
Pavone
|
PELATIH
|
Fatih Terim / Roberto
Mancini
|
WAKIL PELATIH
|
Luciano
Chiarugi
|
PELATIH KIPER
|
Piero
Battara
|
PELATIH PRIMAVERA
|
Aureliano
Andreazzoli
|
PELATIH FISIK
|
Claudio
Bertelli
|
DOKTER TIM
|
Dott. Marcello
Manzuoli, Dott. Diorgio Galanti
|
TUKANG PIJAT
|
Luciano
Dati
|
Selasa, 15 Agustus 2000
Landmarks Fiorentina (s.d awal musim 2000/2001) ~ akan diupdate terus
· Tahun 1926, klub FIORENTINA resmi berdiri. Pada awalnya, klub ini terdiri dari tiga tim sepakbola kota Firenze. Dan warna seragam pada saat itu adalah merah dan putih
· Tahun 1928, La Viola memulai kiprahnya di kancah sepakbola Italia, dan mengawalinya di seri B.
· Tahun 1929, warna klub berubah menjadi ungu dan lambangnya menggunakan city flower ‘Lili’. Di musim 1929 – 1930, FIORENTINA berhasil promosi ke seri A. Sejak itu FIORENTINA tidak pernah lagi mengalami degradasi ke seri B, kecuali pada tahun 1938 dan 1993.
· Kejuaraan pertama yang diraih oleh La Viola adalah Coppa Italia pada tahun 1940.
· Musim 1955-1956 merupakan tahun keberuntungan FIORENTINA, untuk pertama kalinya tim ungu ini berhasil merebut scudetto. Sayangnya selama empat tahun kemudian secara berturut-turut (56/57, 57/58, 58/59, 59/60) FIORENTINA dirundung nasib jelek. Bayangkan selama empat tahun berturut-turut berada di posisi 2 klasemen, artinya kehilangan 4 kali kesempatan meraih scudetto.
· Dekade 1960-1970, merupakan masa keemasan FIORENTINA. Baik di kompetisi lokal maupun Eropa.
- Juara Coppa Italia 3 kali (1961, 1966, 1975)
- Scudetto (1968/1969)
- Juara Winners Cup (1961)
· Tetapi memasuki era 80-an sampai awal 90-an, FIORENTINA kehilangan kebesarannya. Hasil yang diperoleh mengecewakan para tifosinya.
· Tahun terburuk adalah 1992/1993. FIORENTINA yang telah mengeluarkan banyak uang membeli pemain-pemain bintang untuk meraih scudetto, malah harus turun ke seri B. Padahal pemain yang dibeli tidak sembarangan, diantaranya adalah BATISTUTA, EFFENBERG, dan LAUDRUP.
· Meskipun harus turun ke seri B, FIORENTINA tetap tim yang kuat. Setahun kemudian, di musim 1993-1994, mereka menjadi juara seri B dan berhak kembali ke seri A
· Musim 1994-1995, meskipun baru promosi dari seri B, FIORENTINA langsung menggebrak dan berhasil menempati urutan tiga klasemen seri A. Thanks to Batistuta, berkat penampilannya yang sangat baik di musim ini. Bahkan Nopember 1994, Batistuta juga mencatat rekor mencetak gol 12 kali berturut-turut. Dan juga memperoleh gelar top scorer seri A dengan 26 golnya.
· Tetapi seperti biasa FIORENTINA tidak dapat menjaga penampilan baiknya selama musim ini. Jadi posisi VIOLA di klasemen berada di urutan 10.
· Musim 1995-1996 tidak terlupakan bagi tifosi La Viola. FIORENTINA kembali masuk jajaran ‘The Magnificent Seven’. Berada di posisi ke-4 klasemen, juara Coppa Italia.
· Mengenai musim 1995-1996 ini, ada satu yang digunakan untuk menggambarkan tim La Viola, ‘muda’ !! Saat itu, sebagian besar pemain berusia dibawah 25 tahun. Pemain baru seperti Lorenzo Amoruso dan Serena memberikan tenaga baru bagi klub. Pemain muda lain seperti Toldo dan Rui Costa juga banyak membantu tim.
· Dan yang juga tidak bisa dilupakan adalah sang allenatore Claudio Ranieri. Taktiknya untuk selalu menyerang, tetapi kurang dalam bertahan, yang merupakan kekurangan FIORENTINA di tahun ini. Hal lain yang patut diingat adalah “Ba – Ba” --Batistuta dan Baiano. Dua striker ini menjadikan sektor depan FIORENTINA sangat tangguh.
· Tahun 1996-1997, FIORENTINA harus terjun di dua kejuaraan (seri A dan Piala Winner), dan prestasinya di seri A tidak dapat memuaskan tifosi. Pelatih Claudio Ranieri harus mencari klub baru dan pelatih muda Alberto Malesani datang ke Firenze. FIORENTINA merupakan klub seri A pertama yang dilatih Malesani, sebelumnya ia melatih klub di seri B dan C dengan hasil yang memuaskan.
· Musim 1997-1998 adalah yang cukup baik bagi La Viola. Karena ada beberapa pertandingan yang sukar dilupakan. Seperti sukses mengalahkan Juventus 3-0 dan menang 2-0 atas Milan (dua kali). Yang patut dicatat, musim ini merupakan tahun terbaik untuk pertandingan away Viola (menang 7, Seri 5 dan kalah 5)
· Tahun 1998-1999, adalah eranya Trappatoni. Tifosi FIORENTINA tentu masih mengingat dengan baik musim ini. FIORENTINA mempunyai kesempatan baik untuk meraih scudetto, tetapi cedera Bati dan kurangnya pengalaman dan mental juara menyebabkan FIORENTINA kehilangan gelar scudetto di saat – saat terakhir.
· Tahun 1999-2000, FIORENTINA harus berlaga di tiga kejuaraan sekaligus (Serie A, Liga Champion dan Coppa Italia) dan hasilnya sangat mengecewakan, akibat kurangnya pemain yang bisa melapis pemain-pemain inti yang cedera. Padalino, Mijatovic, Chiesa dan Torricelli hampir tidak bisa bermain separuh musim. DI Liga Champion, FIORENTINA bisa sampai ke babak perempat final. Sementara di Serie A, setelah terpuruk di papan tengah, akhirnya di pertandingan terakhir bisa juga menggeser Udinese dan berada di posisi ke-7 yang berarti lolos ke UEFA Cup.
· Pertandingan terakhir musim lalu melawan Venezia juga merupakan pertandingan terakhir BATISTUTA bersama FIORENTINA. DI pertandingan itu Batistuta mencetak tiga gol , sekaligus memecahkan rekor Kurt Hamrin sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah FIORENTINA yang bertahan selama 40-an tahun.
· Musim 2000-2001, kehilangan Batistuta & Trappatoni, FIORENTINA membeli sederetan pemain muda berbakat.. Nuno Gomes, Leandro, Marco Rossi semuanya berusia dibawah 25 tahun !! Sementara pelatihnya diboyong dari Turki, Fatih Terim.
Selasa, 01 Agustus 2000
Surat Terbuka Batistuta kepada Fans Fiorentina
Dear
tifosi,
Setelah membaca dan mendengar bermacam versi mengenai kepergiannya, Batistuta
akhirnya memutuskan untuk langsung bicara sendiri dengan tifosinya dalam bentuk
surat terbuka.
Berikut adalah ungkapan hati Batistuta yang dikirimkannya pada majalah VIOLA. Di
surat itu ia bicara blak-blakan mengenai mengapa ia ‘harus’ pergi dari
Firenze dan FIORENTINA, bagaimana perasaannya, dsb. Dari
judulnya aja ketahuan bahwa ia tidak kalah sedihnya dengan kita..
Semoga dengan membacanya, tifosi mau mengerti mengapa Batistuta tidak
lagi menjadi bagian dari kita. Sad letter..
Bagi
yang ‘gape’bahasa Italia, juga bisa menemukan versi Italianya di sini.. :)
Musim kompetisi mendatang dimulai dalam cara yang paling menyakitkan bagi FIORENTINA dengan kepergian Gabriel Batistuta. Semua orang mengkhawatirkan hal itu akan terjadi, tapi tidak ada yang mau percaya hal itu telah terjadi. Bati telah pergi ke Roma dan ia menjelaskan alasannya. Seperti biasa dengan rendah hati dan apa-adanya. Ada yang bisa memahami keputusannya itu tapi banyak juga yang tidak mau menerima dan mungkin tidak akan pernah. Tahun-tahun yang dilalui Batistuta di Firenze dan FIORENTINA tidak akan terlupakan. Ikatan yang dimilikinya dengan kota dan penduduknya masih terlalu kuat. Batistuta memilih majalah ‘VIOLA’ untuk berbicara langsung dengan fan. Berikut bukan ucapan selamat tinggalnya.
Saya,
Batistuta, Tifosi Viola Selamanya
Tidak
mudah bagi saya untuk menjelaskan kepada semua fan mengenai apa arti kepergian
saya, bahkan sulit untuk menjelaskannya pada anak-anak saya sendiri, mereka
tidak bisa mengerti termasuk juga anak sulung saya. Saya hanya bisa mengatakan
bahwa saya melakukan hal yang benar. Saya tahu bahwa ada orang yang tidak
mengerti, tapi dengan berjalannya waktu, mereka akan sependapat dengan saya juga
pada akhirnya.
Saya
pergi, tapi saya tidak bisa mengatakan selamat tinggal. Firenze - setelah
Reconquista, adalah kota kedua bagi saya, rumah kedua bagi saya. Saya akan
selalu mengunjunginya dan kembali kesini. Saya tidak pernah sanggup mengucapkan
selamat tinggal pada Firenze, ikatan saya dengan kota ini terlalu kuat.
Satu-satunya hal yang berubah adalah saya akan mengenakan jersey berbeda.. dan
saya berharap hanya itulah yang berubah.
Saya
memiliki tiga anak yang semuanya tifosi FIORENTINA. Dua anak saya yang terkecil
masih terlalu muda untuk memahami, Thiago anak sulung saya, tapi sampai sekarang
ia masih tidak mengerti dan masih bersedih, sama seperti kita semua. Saya harus
menjelaskan padanya bahwa saya harus membuat keputusan untuk karir saya, tapi
yang ia faham hanyalah bahwa disini kami sudah punya segalanya, dan buat apa
pergi, dan sangat logis ia berfikir seperti itu. Thiago seorang bocah, dan saya
tidak bisa memaksanya untuk memahami masalah saya, sementara Irina selalu
mendukung saya. Ia mengerti bahwa ini karir saya dan bahwa cepat atau lambat,
dalam waktu sepuluh tahu atau lima belas tahun, saya harus mengambil keputusan
penting.
Kami
akan pindah dari rumah ini, kami akan menyewakannya, kemudian kami akan menyewa
rumah di Roma. Bagi saya, rumah milik saya hanya di Firenze. Saya akan tetap
menjadi penduduk kota ini, menjadi bagian kota ini dan saya akan tetap menyusuri
jalan-jalan di kota yang saya cintai ini.
Orang-orang
sekarang mengenang gol-gol saya, tapi permainan tetap berlanjut, dan stadion
akan tetap penuh, akan ada pemain baru lain yang lebih baik dari saya. Saya
ingin kalian mengenang saya sebagai seorang pria biasa.
Waktu
saya diperkenalkan di Roma. Hal itu memberi kesan yang dalam bagi saya, sebab
saya tidak menyangka akan begitu banyak orang yang datang. Mereka
datang sendiri-sendiri, tanpa ada yang merencanakan atau mengorganisirnya. Waktu
itu jam 1 siang, cuaca sangat panas, dan mereka rela hadir untuk menyambut saya..
Saya sadar bahwa itu acara perkenalan, bahwa saya sedang dipamerkan di hadapan
fan, tapi kemudian.. ketika saya
pulang, dengan bayangan FIORENTINA yang masih begitu nyata di kepala, saya
melihat liputan acara presentasi itu di TV dan saya tiba-tiba sadar bahwa
ternyata saya tidak sedang mengenakan jersey Viola... itulah mengapa rasanya
begitu berbeda.
Seseorang
pernah bertanya apakah saya akan kembali kesini jika kontrak saya dengan Roma
berakhir. Inilah perasaan saya yang sebenarnya. Ketika saya masih berusia 25
tahun, saya kira saya akan mengakhiri karir saya di usia 30. Tapi ternyata
disinilah saya, dengan kontrak baru di klub baru. Saya tidak heran ditawari
kontrak yang cukup lama, saya tahu bahwa karir saya hampir berakhir. Saya hanya
heran bagaimana kondisi fisik saya bisa bertahan setelah sepuluh tahun berada
dalam tekanan. Berkarir yang penuh resiko, harus turun dalam kondisi apapun,
meskipun saat sedang cedera. Pokoknya waktu itu saya merasa saya akan berhenti
di usia 30. Sekarang situasi sudah berbeda, tapi saya tidak bisa mengatakan apa
yang akan terjadi di tiga tahun nanti. Semuanya tergantung pada kondisi fisik
saya, saya tidak bisa melupakan bahwa saya meninggalkan FIORENTINA karena
memiliki masalah dengan Presiden klub, dan karenanya jika nanti keadaan belum
belum berubah, rasanya kehadiran saya kembali disini tidak dikehendaki..
Tapi siapa tahu nanti akan ada perubahan. Bahkan mungkin sekarang, dengan kepergian saya mungkin saja perubahan akan terjadi lebih cepat. Dengan perginya saya, akan ada yang menjadi lebih kuat dan tegar, atau ada yang merasa bebas, atau reaksi lainnya. Saya sudah tidak disini lagi dan karenanya harus ada yang bergerak. Seseorang yang biasanya berlindung di balik saya, harus muncul. Saya berharap kepergian saya merupakan solusi. Dan jika keadaan benar berubah.. mengapa tidak, saya akan dengan senang hati kembali lagi..
Keputusan
yang saya ambil ini tidak diputuskan secara mendadak. Saya sudah mengetahui
problem klub dan saya harus hidup dengannya dan menderita karenanya. Begitu
banyak masalah, yang tidak pernah diketahui oleh orang lain.
Di
musim lalu, saya memahami bahwa hubungan kami benar-benar sudah di ambang
kehancuran, ketika saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan. Kisah cinta
yang berlangsung selama sembilan tahun ini sudah sulit untuk diselamatkan..
delapan tahun sebenarnya. Karena
di tahun pertama saya harus berjuang untuk bisa mendapatkan posisi di tim. Selama
delapan tahun saya diam dan menunggu. FIORENTINA fan selalu bisa mengejutkan
saya dan mungkin mereka telah memberi saya apa saja yang mereka sukai.
Saya
telah melakukan banyak hal bagi FIORENTINA, tapi saya juga dibayar untuk
melakukan tugas itu. Benar, saya telah bekerja sangat baik, dan bahkan saya
melakukan lebih dari hanya sekedar menunaikan kewajiban.. Saya bekerja dengan
seluruh hati saya, saya mencintai tim ini.
Ada
saat-saat sulit yang harus saya hadapi, dan
saya harus hidup bersama masalah itu. Saya harus selalu membuat
FIORENTINA besar: dengan atau tanpa fakta. Saya sudah mencoba. Saya sudah
berkali-kali memberi usulan, tapi tidak ada satu pun yang dipedulikan. Mereka
memang mendengarkan saya, tapi hanya untuk menyenangkan saya, dan akhirnya saya
tidak pernah bisa mengatakan bahwa FIORENTINA telah melakukan saran saya. Saya
tidak pernah bisa mengatakan “ini ide saya lho..”. Tidak, hal itu tidak
pernah terjadi, saya juga pernah memberi usul beberapa pemain yang sebaiknya
dibeli, tapi dalam kenyataannya mereka meremehkannya. Lalu mengapa mereka
bertanya pada saya ? Saya pernah mengajukan Simeone, Zanetti, Redondo, dan
beberapa pemain hebat lain yang akan bisa melakukan hal yang besar untuk
FIORENTINA, tapi mereka cuek aja. Well, katakan sajalah bahwa saya dan Cecchi
Gori tidak sependapat dalam hal bagaimana membuat FIORENTINA lebih kuat. Sampai
sekarang ia masih ngotot bahwa ia ingin memperkuat FIORENTINA. Jalan kami menuju
sukses ternyata berbeda.
Saya
tidak punya saran lagi untuk diberikan. Sekarang, sebagai fan, saya hanya bisa
menanti dan berharap FIORENTINA akan tumbuh, terutama dalam satu hal, yang bisa
berakibat baik bagi klub.
Saya,
tifoso Viola selalu dan selamanya, yang hanya bisa berharap.
Gabriel Batistuta
La nuova stagione della Fiorentina è cominciata nel modo più doloroso con l'addio di Gabriel Batistuta. Tutti temevano che sarebbe successo, nessuno, però, voleva crederci. Invece Bati è andato alla Roma. Ed ha spiegato perché. Con la sincerità e l'onestà di sempre. C'è chi ha capito la sua scelta ma c'è anche chi non è ancora riuscito a digerirla e forse non ci riuscirà mai. Restano gli anni che Bati ha dedicato a Firenze ed alla Fiorentina, resta il rapporto che ha saputo costruire con la squadra, con la città, con la gente. Resta la sua immensa serietà professionale. Per salutare direttamente tutti i tifosi Batistuta ha scelto 'Viola'. Ecco il suo non-addio. Che non ha bisogno di commenti.
Io, Batistuta, tifoso Viola per sempre

Non è facile spiegare a tutti cosa significa la mia partenza, certo è difficile spiegarlo ai bambini, spesso non capiscono nemmeno i grandi. L'unica cosa che posso dire è che io mi sono comportato correttamente e questo nella vita paga. So che qualcuno forse non ha capito, ma fra un po' di tempo finiranno per darmi
ragione.
Me ne vado, ma non posso dire addio. Firenze è, dopo Reconquista, la mia seconda città, la mia seconda casa. Io continuerò a stare qui e a fare la spola. Non ho mai pensato a dare l'addio a Firenze, il mio rapporto con la città è troppo forte. L'unica cosa che cambia è che indosserò un'altra maglia... e spero davvero cambi solo questo.
Io ho tre figli fiorentini. I due piccoli sono troppo piccoli per capire, Thiago è più grande, ma non ha capito ed è triste, come tutti noi del resto. Gli ho spiegato che dovevo fare una scelta di lavoro, ma lui capisce solo che qui abbiamo tutto, ed è logico che sia così. Thiago è un bambino, e non posso pretendere che capisca i miei problemi, Irina, invece, mi è sempre vicina. Lei ha capito che questa è la mia carriera e che in questi dieci, quindici anni devo fare delle scelte.
Da questa casa traslocheremo, siamo in affitto e andremo a Roma, ma io la mia casa l'ho già comprata... a Firenze. La mia base sarà qui, e io continuerò a camminare per le strade di una città che amo.
La gente ora ricorda i miei gol, ma poi le partite continueranno a giocarsi, lo stadio sarà sempre pieno, ci saranno altri campioni. Vorrei che la gente mi ricordasse come uomo.
Immagino che oggi, qualcuno abbia negli occhi la mia presentazione alla Roma. Anche a me ha fatto effetto. Perché non mi aspettavo tanta gente, ma questa è stata una sorpresa per tutti. Perché siamo entrati allo stadio, ma lo hanno chiesto i tifosi all'ultimo momento, una cosa non programmata, non organizzata. Perché all'una del pomeriggio con un caldo terribile erano in tanti, tantissimi ad applaudirmi... Io ero cosciente che quella era una presentazione, che andavo davanti a tifosi nuovi, tutto quanto, ma dopo... Sono tornato a casa, con i ricordi della Fiorentina ancora vivi, mi sono rivisto in televisione e mi sono accorto che non avevo indosso la maglia viola... Ecco perché mi ha fatto effetto.
Qualcuno mi ha chiesto se concluso il contratto con la Roma potrei tornare, e quando uno ti fa una domanda ti costringe a riflettere. Quando avevo venticinque anni pensavo che arrivando a trenta sarei stato alla fine della carriera: ora mi trovo con un contratto importantissimo per una nuova società. Non sono sorpreso del contratto lungo, so di essere nel pieno della mia carriera, sono solo sorpreso di come ha reagito il mio fisico a dieci anni di pressione. Una carriera in cui ho rischiato molto, giocando in qualunque condizione, anche infortunato. Queste cose, ma ne ero consapevole, fanno male al fisico e quindi ritenevo che a trent'anni avrei smesso di giocare. Oggi la situazione è ben diversa, ma non sono in grado di dire cosa succederà fra tre anni. Ma, indipendentemente da quella che sarà la mia condizione fisica, non posso dimenticare che ho lasciato la Fiorentina per problemi con la dirigenza e quindi, se le cose non dovessero cambiare, il mio ritorno è improbabile.
Chissà se le cose cambieranno. Magari oggi, anche con l'aiuto della mia partenza, potrebbe accadere. Andandomene io qualcuno prenderà forza, o qualcuno si sentirà più libero, o qualcun' altro reagirà alla mia mancanza. Io, in fondo, ho sempre fatto da parafulmine. Ora non ci sono più e quindi qualcuno si dovrà muovere. Qualcuno, che è sempre rimasto nascosto ora deve venire allo scoperto. Io mi auguro che la mia partenza sia una soluzione. E se le cose cambiassero... perché no. Sarei felicissimo di poter tornare, ma ora è un ragionamento inutile.
Quella che ho preso è una decisione maturata non certo negli ultimissimi giorni. Io conoscevo e vivevo i problemi della società e ne soffrivo. Tanti problemi, nuovi per la gente, forse emersi solo quando ho deciso di parlare ed evidenziati dalla mia decisione di andarmene, ma non certo nuovi per me. Nell'ultimo periodo, quando non ho avuto le risposte che chiedevo, allora ho capito che eravamo proprio alla fine. Alla fine di una storia d'amore durata nove lunghi anni... diciamo otto perché il primo anno ho dovuto lottare per impormi. Per otto anni sono stato coccolato come mai mi sarei aspettato.
I tifosi della Fiorentina sono sempre riusciti a sorprendermi e mi hanno dato più di quanto forse, anche loro avrebbero voluto. Io ho fatto tanto per la Fiorentina, ma sono stato pagato per fare il mio lavoro. Ho lavorato molto bene è vero, e forse ho fatto qualcosa di più che lavorare per lo stipendio... ho lavorato con il cuore, ma i tifosi non avevano nessun dovere. Sicuramente non l'obbligo di darmi tutto il loro affetto che è andato oltre ogni limite. Oltre ogni possibile immaginazione.
I momenti difficili ci sono stati, ma quelli li ho vissuti 'dentro' il calcio, non 'intorno' al calcio. Ho sempre cercato di far diventare la Fiorentina grande: con i fatti e non solo con i fatti. Ho anche proposto delle soluzioni, ma non è mai successo niente. Magari per farmi contento mi ascoltavano, ma alla fine certo non posso dire che la Fiorentina ha fatto qualcosa perché io l'ho proposto. Non ho mai potuto dire "questa è la mia idea". No, questo non è mai successo. Mi venivano chieste delle cose, ho anche proposto dei giocatori, ma in realtà le mie proposte non contavano niente. E allora perché chiedere. Sono stato interpellato per Simeone, per Zanetti, per Redondo, per altri giocatori importanti che avrebbero potuto fare più grande la Fiorentina, ma che poi non sono stati presi. Va Beh. Diciamo che il mio pensiero per fare una Fiorentina forte non era lo stesso pensiero di Cecchi Gori. Eppure lui ha sempre sostenuto e sostiene di voler fare una Fiorentina grande, forte. Diciamo che le nostre strade per arrivare al successo erano diverse.
Non ho consigli da dare. Oggi, da tifoso, posso solo aspettare che la Fiorentina cresca e che cresca soprattutto nelle piccole cose, che sono quelle che fanno grande una società.
Io, tifoso viola da sempre e per sempre, non posso che augurarmi questo.
Gabriel Batistuta
